Empat Pendiri Startup Masuk Orang Terkaya Indonesia Versi Globe Asia - Bisnisasean.com | Situs Berita Bisnis ASEAN | News Portal For Association of Southeast Asian Nations

Post Top Ad

Empat Pendiri Startup Masuk Orang Terkaya Indonesia Versi Globe Asia

Empat Pendiri Startup Masuk Orang Terkaya Indonesia Versi Globe Asia

Share This
Para pendiri start up di NextICorn International Summit Mei lalu. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
JAKARTA, BISNISASEAN.COM- Bisnis usaha rintisan yang biasa dikenal dengan sebutan “startup” mengalami perkembangan trend positif. Saking berkembangnya startup digital, majalah Globe Asia dalam rilis terbarunya (26/07/2018) tentang daftar 150 orang terkaya di Indonesia menempatkan empat pendiri startup digital yang masuk dalam daftar ini. Lalu siapa saja mereka?
Empat pendiri startup lokal yang masuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia adalah Ferry Unardi (Traveloka), William Tanuwijaya (Tokopedia), Achmad Zaky (Bukalapak), dan Nadiem Makarim (Go-Jek).

Globe Asia mengungkap Kekayaan Ferry Unardi mencapai USD145 juta (sekitar Rp2 triliun). Lelaki berusia 30 tahun itu berada di posisi ke-146. Sementara Tokopedia, Tanuwijaya, memiliki kekayaan USD130 juta (Rp1,8 triliun).  Sedangkan Zaky dan Makarim masing-masing menyimpan pundi-pundi kekayaan USD105 juta (Rp1,5 triliun) dan USD100 juta (Rp1,4 triliun).

Peringkat paling puncak orang terkaya Indonesia diduduki Robert Hartono dan Michael Hartono, pemilik Djarum dan BCA. Mereka memiliki kekayaan USD21 mi liar (Rp303,4 triliun). Disusul Eka Tjipta Widjaja (Sinar Mas Grup) dengan USD13,9 miliar, Anthoni Salim (First Paolflo) USD11,5 miliar, dan Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam) USD11 miliar.

Sementara itu, Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo berada di urutan ke-19 dengan kekayaan USD1,8 miliar (Rp26 triliun). “MNC Group merupakan operator media terbesar di Indonesia. Perusahaan media tersebut menanamkan modal di sektor properti, infrastruktur, keuangan, dan modal venture,” ungkap Globe Asia.

Menurut Globe Asia, perusahaan start-up juga tidak kalah dari perusahaan lama. Go-Jek yang awalnya hanya membuka layanan ojek online pada 2010, kini menjadi salah satu bisnis paling bernilai. Layanannya melebar ke ber bagai sektor, mulai logistik (Go-Send), antar makanan (Go-Food), hingga pembayaran (Go-Pay).

Pada titik permulaan, Go-Jek tersandung masalah di lapangan menyusul sengketa bisnis dengan tukang ojek konvensional, termasuk dengan sopir taksi. Pemerintah lokal hingga pusat turun tangan untuk mencoba memberikan jalan tengah dan ekonomi berkeadilan. Regulasi baru pun terus bermunculan di setiap tahun.

Makarim selaku pendiri Go-Jek mengukuhkan misi peningkatan pendapatan dan kehidupan rakyat Indonesia di sektor informal. Dia merangkumnya dalam tiga nilai, yakni kecepatan, inovasi, dan dampak sosial. Saat ini aplikasi yang berada di bawah PT Aplikasi Karya Anak Bangsa itu memberikan layanan di 50 kota di Indonesia.

Dalam waktu dekat, Go-Jek tidak hanya akan mengembangkan layanan ke kota-kota yang lain, tapi juga keluar negeri. Ekspansi bisnis di Filipina dan Singapura masih dalam proses, sedangkan akuisisi di India sudah rampung. Go-Jek telah bermitra dengan 300.000 tukang ojek yang di berikan berbagai jaminan dan pelatihan.

Dengan dampak yang besar terhadap perubahan bisnis transportasi di Indonesia, Go-Jek menjadi
satu-satunya perusahaan Asia Tenggara yang masuk daftar Top 50 Company Fortune Change the World 2017. Setahun setelah diluncurkan, perusahaan tersebut menggalang dana hingga USD500 juta dari KKR dan Warburg Pincus. Go-Jek merupakan Unicorn pertama Indonesia.

Unicorn ada lah perusahaan start-up yang berhasil memiliki valuasi hingga USD1 miliar, dengan asumsi nilai transaksi Rp1,8 miliar per hari. Go-Jek menjadi satu puzzle dari puluhan puzzle perusahaan start-up yang mendulang sukses meraup keuntungan besar di Indonesia.

Tokopedia yang satu tahun lebih tua dibandingkan Go-Jek membaca pergerakan bisnis digital sejak 2014 silam. Dengan suntikan dana hingga USD100 juta dari Softbank Internet and Media dan Sequia Capital, Tokopedia menjadi salah satu perusahaan paling berkembang, terbesar, dan terpercaya di sektor belanja online.
Tokopedia kembali mendapatkan dana segar senilai USD1,1 miliar dari perusahaan e-commerce raksasa Alibaba. Pemilik Tokopedia, Tanuwijaya, menjadi selebritas di industri digital. Tanuwijaya mulai tersirat untuk menangkap peluang bisnis belanja online setelah melihat potensi pertumbuhannya yang terus naik.

Dengan menyebarluasnya smartphone dan internet, dia yakin e-commerce memiliki masa depan cerah. Selain itu, e-commerce asing belum sepenuhnya mencengkeram pasar Indonesia. Kendati tidak dibekali pengalaman berbisnis, Tanuwijaya memberanikan diri merealisasikan ambisinya untuk menciptakan “mal” online.

Dia mengajak temannya, Leontious Alpha Edison, untuk mencarikan investor. Setelah melalui berbagai rintangan, Tokopedia akhirnya diluncurkan pada 2009 dan menjadi inspirasi baru. Perkembangan Tokopedia pun kian meroket hingga saat ini. Tumbuhnya start-up di Tanah Air saat ini tidak lepas dari potensi pasar yang besar di dalam negeri.

Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta jiwa, serta penetrasi internet mencapai 51% atau sekitar 132 juta, hal itu jelas merupakan pasar yang menggiurkan. Dengan dukungan infrastruktur telekomunikasi yang semakin baik, ke depan pengguna internet diperkirakan bakal bertambah signifikan.

Kondisi ini harus bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha agar layanan aplikasi over the top asing tidak mendominasi. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir di sela-sela National Start-up Summit 2018 di Tangerang, Banten, mengakui kedatangan pemain asing ke pasar Indonesia sulit dicegah.

Melihat kondisi tersebut, yang perlu dilakukan bukan membatasi, melainkan pemain lokal terutama kalangan muda bisa ada di dalam ekosistem tersebut sehingga bisa berkreasi dan berinovasi. Nasir mengatakan, negara pemenang dalam inovasi bukan negara besar dalam hal jumlah penduduk, melainkan negara yang terus melakukan inovasi.

“Jadi, kita tidak perlu takut dengan asing, tapi pacu diri untuk terus berinovasi,” kata Nasir seperti dikutip Sindo News. Investasi di perusahaan start-up Indonesia melonjak 68 kali lipat dalam lima tahun men jadi sekitar USD1,4 miliar pada 2016.

Alessandro Gazzini dari AT Kearney mengatakan, dengan pertumbuhan pesat maka nilai investasinya kemungkinan melampaui investasi di sektor minyak dan gas yang mencapai USD5 miliar.

Antara Januari dan Agustus 2017, terdapat total 53 ke – sepakatan investasi, sekitar 43% seed funding, sedangkan 30% infusi series A. Selain itu, investasi di series C juga meningkat sebesar 43% dari total investasi bersih senilai USD3 miliar. Tahun lalu sekitar 95% total investasi di Tanah Air berasal dari China.

Tencent menanamkan modal senilai USD1,2 miliar di Go-Jek, sementara Alibaba Group USD1,1 miliar di Tokopedia. Traveloka juga mendapatkan dana sekitar USD500 juta dalam dua babak. Investor Traveloka berasal dari berbagai negara. Sebut saja Expedia, JD.com, East Ventures, Hill house Capital Group, dan Sequoia.

“Potensi pertumbuhan start-up di Indonesia sungguh luar biasa. Namun, mereka juga memerlukan lebih banyak para insinyur,” ujar Gazzini, dikutip inc42.com. “Kedepannya, investasi di start-up sangat bergantung pada kepercayadirian investor. Seperti kondisi pasar Indonesia, akan amat menentukan,” tambahnya.

Anda tertarik mengikuti jejak mereka? (GA/SN/MS/MJ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages